Gunung ini terletak di perbatasan propinsi Sumatera Selatan dan propinsi Bengkulu. Untuk mencapai desa terdekat, terlebih dahulu anda harus mencapai kota Pagar Alam, kurang lebih 7 jam perjalanan darat dari Palembang. Dari ibukota Sumatera Selatan ini tersedia banyak bus ke arah Pagar Alam, untuk mencapai Pagar Alam lebih mudah lewat Palembang.
Kota Pagar Alam, memang sesuai dengan namanya, kota ini jelas dikelilingi barisan pegunungan Bukit Barisan dan yang tertinggi dari barisan tersebut adalah Gunung Dempo. Gunung ini sangat indah menjulang tegak menggapai langit nan biru apabila dilihat pada pagi hari. Oleh karena itu sangat tepat bila bermalam dulu di kota ini, disini banyak tersedia losmen atau motel. Budaya kota yang sudah berbaur dari berbagai suku baik pendatang maupun asli menciptakan kedamaian yang anda tidak peroleh di kota-kota besar. Dari terminal Pagar Alam, terlebih dulu mencarter mobil untuk jurusan Pabrik Teh PTPN III yang jaraknya mencapai 15 KM dari terminal. Di daerah pabrik ini ada baiknya anda berkenalan dengan seseorang yang biasa dipanggil pak Anton, beliau termasuk yang dituakan oleh para pencinta alam seantero Sumsel-Lampung. Dengan meminta bantuannya, mobil carteran akan membawa anda ke desa terdekat dari kaki gunung Dempo yaitu Kampung Empat, yang dapat memakan waktu lebih dari 30 menit, karena jalannya cukup terjal, berkelok dengan melewati hamparan kebun teh nan hijau. Anda bisa menambah persediaan supply logistik pendakian di kota Pagar Alam tapi jarang ada warung di daerah rumah Pak Anton, sedangkan di Kampung Empat hanya ada satuwarung kecil dan itupun tidak lengkap. Gunung ini bisa didaki dalam dua hari satu malam akan tetapi akan cukup menguras tenaga sebaik mendaki gunung dengan bermalam dua malam digunung ini dan mendirikan tenda di Pos II dan di Pelataran, sehingga bisa lebih menikmati keindahan alam Gunung Dempo.
Akses Transportasi
Dari Palembang menuju Pagar Alam bisa ditempuh dengan memakai jasa transportasi Bus atau Travel. Saat ini dari Palembang menuju Pagar Alam satu-satunya perusahaan travel yang untuk trayek ini adalah Telaga Biru Travel yang beralamat di Jl. Jendral Sudirman Palembang telepon: 0711-357576 dan untuk perwakilan di Pagar Alam telponnya 0730-621592. Jadwal keberangkatan travel ini adalah setiap jam delapan pagi dan jam 5 sore. Tarif per orangnya adalah Rp.70.000,- dan biasanya jika sampai di Pagar Alam malam hari maka akan dianter hingga rumah kuncen gunung ini yaitu Pak Anton asalkan diberitahukan terlebih dahulu. Kemudian dari Pagar Alam menuju Kampung Empat bisa mencarter mobil untuk mendapatkan mobil carteran bisa meminta bantuan Pak Anton. Ada alternatif lain untuk mencapai Kampung Empat yaitu dengan menumpang truk yang berangkat setiap harinya jam lima pagi, truk ini biasanya menjemput anak sekolah di Kampung Empat. Untuk transportasi balik dari Kampung Empat menuju Pagar Alam anda bisa janjian lagi dengan mobil yang anda carter dari Pagar Alam untuk menjemput anda di Kampung Empat, atau bisa menumpang truk yang mengatarkan anak-anak sekolah akan tetapi anda harus sudah sampai di kampung empat pada jam 3 sore, karena truk ini turun kembali ke Pagar Alam dari Kampung Empat pada jam empat atau lima sore. Untuk Akomodasi dirumah Pak Anton ada sebuah pondok pendaki yang biasa digunakan untuk menginap. Selain mobil travel juga bisa naik Bus Telaga Biru atau Dharma Karya dari Palembang menuju Pagar alam dengan Harga tiket Rp.30.000,- jika menaiki mobil yang berangkatnya pagi maka sampai di Pagar Alam sore harinya dan turun di terminal Pagar Alam kemudian dilanjutkan dengan naik angkot menuju rumah pak Anton dengan ongkos Rp.3.000,-
Jalur menuju ke puncak gunung inipun sudah sangat jelas dan bahkan di hari-hari biasa pun banyak orang desa yang sengaja naik ke puncak baik itu untuk mencari kayu ataupun sekedar berhiking ria. gunung ini memang cukup tinggi tetapi air jernih yang ada terdapat sampai setengah perjalanan ke gunung ini sehingga para pendaki tidak perlu khawatir kehabisan air minum selama perjalanan. Sebuah kali kecil yang jernih, mengalir di perbatasan hutan pertanda kita mulai memasuki daerah hutan yang ditumbuhi dengan tumbuhan yang mirip seperti yang kita dapati di gunung Gede-Pangrango, yaitu hutan montana. Jalan setapak penuh dengan akar-akar yang melintang, kemiringan lereng sendiri cukup curam untuk memeras keringat. Tidak ada tanda-tanda khusus, keadaan hutan ini hampir homogen dan sangat hening.
Rute Pendakian
Kampung Empat (kebon teh) 1691m dpl
S 4° 02’44.6” E 103°09’03.9”
Entry point menuju pintu rimba ada di kebun teh yang terletak sedikit berjarak dari Kampung Empat. Ada beberapa titik yang bisa dijadikan sebagi entri point seperti yang terlihat pada gambar ini kami merekomendasikan titk karena mudah dikenali dengan adanya sebuah pohon yang ada plang nama club pecinta alam. Dari sini naik menapaki jalan setapak kearah kiri lalu lurus keatas membelah kebun teh. Dari entry point ini menuju pintu rimba butuh waktu kurang lebih 20 menit.
Pintu Rimba 1818m dpl
S 4°02’32.7” E 103°08’56.3”
Persis berada di ujung kebun teh sebagai penanda ada plang yang bertuliskan pintu rimba dari sini jalan setapak memasuki kawasan hutan, keadaan jalan setapak kecil dan sempit dikiri kanan banyak semak-semak dan terkadang terdapat semak berduri, kemudian jalan setapak menjadi agak lebar dan dipenuhi oleh akar-akar pohon saat semakin memasuki hutan. Jalan setapaknya jelas sekali. Jarak tempuh dari pinta Rimba menuju Pos I kurang lebih dua setengah hingga tiga jam.
Pos I. 2165m dpl
S 4°02’08.0” E 103°08’33.9”
Pos satu ini cukup luas mampu menampung lima sampai enam tenda akan tetapi di sini tidak ada sumber air. Biasa pos ini hanya dipakai untuk istirahat sejenak. Jalur setapak dari pos ini menuju Pos II cukup jauh sekitar tiga hingga tiga setengah jam, dengan kondisi jalan setapak yang cukup curam, curam disini maksudnya adalah jalan setapak yang undakan tanjakannya cukup tinggi terkadang melebihi tinggi orang dewasa dan banyak sekali akar-akar pohon yang melintang sehingga terkadang harus memanjat untuk bisa melewatinya. Dengan keadaan jalur seperti ini sehingga menambah lama waktu tempuh hingga ke pos II. Dan dipertengahan antara jalur Pos I ke Pos II terdapat tanjakan yang tajam yang disebut dengan Tanjakan Dinding Lemari, harus berhati-hati sat melewati tanjakan dinding lemari ini selain licin juga sebelah kanan jalan curam dan cukup tinggi sekitar empat meter. Jalan setapaknya mudah dikenali dan lebar sedangkan hutannya cuup rapat.
Pos II. 2632m dpl
S 4°01’43.7” E 103°08’10.3”
Pos dua ini terletak pada ketinggian 2632m dpl dan cukup lebar, ada beberapa lokasi untuk mendirikan tenda, di lokasi ini terdapat sumber air berjarak seratus meter dan terletak disisi kiri bawah dari lokasi pos ini. Airnya cukup besar berupa air ternjun kecil. Pos II ini bisa dijadikan lokasi camp. Dari pos dua ini jalur pendakian semakin curam dan tak lama kemudian kita akan memasuki daerah cadas, tumbuhan di daerah cadas ini sudah mulai pendek-pendek dengan ciri vegetasi puncak. Dari lokasi cadas kita bisa mengedarkan pandangan kebawah dan akan terlihat hamparan bukit barsan serta perkebunan teh milik PTPN III. Jalur semakin curam dan akhir dari tanjakan ini adalah puncak II dempo yang dikenal juga dengan Puncak Dempo 3064m dpl. Waktu tempuh dari Pos II hingga kepuncak Dempo kurang lebih satu hingga satu setengah jam.
Puncak Dempo. 3064m dpl
S 4°01’23.1” E 103°07’53.1”
Puncak Dempo ini bukanlan puncak utama dempo, sedangkan puncak utama Dempo bernama Puncak Marapi. Dipuncak Dempo ini tertutup oleh pohon-pohon, namun dari puncak ini kita sudah bisa melihat puncak Marapi dan alun-alun Dempo yang dikenal oleh pendaki setempat dengan sebutan “Pelataran”. Puncak Dempo tidak begitu luas, sekitar lima kali lima meter dan dipenuhi oleh pohon-pohon.
Pelataran. 2998m dpl
S 4°01’19.7” E 103°07’46.1”
Dari puncak Dempo kemudian jalan setapaknya turun kearah Pelataran hanya butuh 15 menit untuk turun sampai ke Pelataran, di lokasi yang luas ini sumber air bersih banyak tersedia. Banyak pendaki yang menjadikan lokasi ini untuk mendirikan tenda sebelum mendaki kepuncak utama. Jalur pendakian dari pelataran menuju puncak tidak begitu jauh dengan medan terbuka dan berbatu-batu. Sekitar tiga puluh menit mendaki tanjakan tersebut kita akan sampai di bibir kawah. Dari bibir kawah puncak berada disebelah kanan berjarak sekitar lima menit jalan kaki.
Puncak Merapi. 3088m dpl
S 4°00’55.4” E 103°07’40.3”
Puncak Marapi ini tidak ada tiang trianggulasi sepertinya sudah roboh, hanya ada bekas-bekasnya saja, terdapat sebuah stasiun relay kecil pengirim data milik Badan Vulkanologi. Dari puncak ini kita bisa memandah lepas kearah kawah gunung Dempo yang berisi air berwarna putih kehijauan. Ada kalanya warna air kawah ini berubah jadi putih pekat atau hijau pekat. Dibagian yang berlawanan tampak hamparan bukit barisan dan dan kota Pagar Alam. Indah sekali pemandangan dari puncak tertinggi bumi Sriwijaya ini.
Perijinan
Perijinan tidaklah terlalu berbelit-belit, di rumah Pak Anton kita bisa mengisi buku tamu dengan menuliskan jumlah anggota, dan lama pendakian. Setelah itu kita juga harus melapor ke kantor vulkanologi yang letaknya tidak jauh dari rumah pak Anton. Dikantor ini kita juga bisa mendapat info tekini mengenai keadaan gunung Dempo.
sumber : high camp the adventure
Kamis, 25 November 2010
Rabu, 24 November 2010
AIR TERJUN CURUP PANCUR PAGAR ALAM
Air Terjun yang terletak sekitar dua kilometer dari pusat Kota tepatnya di sebelah timur obyek wisata kebun teh gunung dempo ini memiliki keindahan alam yang khas dan sangat menawan.
rangkaian batu cadas dan aliran air yang turun dari gunung, membuat kejernihan airnya sunguh menakjubkan, sekilas air terjun ini seperti pancuran raksasa, sehingga disebut curup pancur.
jika musim libur tiba maupun pergantian tahun baru, obyek wisata Alam air terjun curup pancur ramai dikunjungi warga Pagaralam maupun daerah dari kota lain.
air terjun curup pancur ini selain pemandangan yang indah juga berhasiat menyembuhkan berbagai penyakit seperti sakit kudis, panu dan juga gatal-gatal.
mengenai sarana transportasi Pemkot Pagaralam cukup peduli dengan membangun jalan aspal menuju lokasi. tersedia mobil, becak motor sampai dengan ojek yang disediakan warga setempat dengan sistem sewa.
sejak 2002 sejumlah fasilitas juga suda tersedia belum diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menemukan keberadaan air terjun curup pancur, Berdasrkan keterangan warga setempat lokasi ini sudah berumur ribuan tahun.
pastinya, takala kita memasuki areal curup pancur suasana asri langsung menyergap. suara lembut air yang jatuh dari bebukitan, kicauan burung, dan pemandangan hutan yang masih perawan. membuat kita terlena.
keinginan tersebut akan segera terwujud dengan menceburkan tubuh ke dalam sungai, bagi yang tidak bisa berenang jangan khawatir sebab pengelola telah menyiapkan ban bekas yang bisa digunakan untuk pelampung.
benar –benar sulut dibayangkan betapa asyiknya berlibur di obyek wisata curup pancur rasa rugi jika tidak menikmati indahnya dan sejuknya air curup pancur.
Selasa, 23 November 2010
MENGENAL TOEAN LEBIH PENGHOELOE PERDIPE
( PUYANG PIDARAN )
SANG MUBUNGAN DJAGAD BESEMAH
Oleh : Fekri Juliansyah
Siapa nyana dibalik rerimbunan pohon di hulu Aliran Sungai yang mengalir tenang di kaki Bukit Gajah, Muarasindang, Kecamatan Sindang Danau, Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan ini terdapat makam pejuang kemerdekaan, seorang ulama yang sangat dihormati pada masanya dan pemimpin “ Besemah Libagh – Semende Panjang”….
Ayik Rambutan, demikian masyarakat menyebut nama sungai ini. Udara yang sejuk di siang hari atau udara dingin menusuk tulang ketika senja dan malam hari. Kesan dan aroma mistik pun kental terasa tatkala penulis dan rombongan menyempatkan diri berziarah ke lokasi ini pada Tanggal 23 Juli 2003 silam.(Kisah perjalanan ini lengkap termuat di Majalah MISTERI edisi 350 Hal.22-23 dengan judul: “Ziarah Mistis di Makam Puyang Rambutan”).
Lalu Siapa Sebenarnya Puyang Pidaran?
Puyang Pidaran adalah nama asli dari “ Toean Lebih Penghoeloe” (Puyang Lebih Penghulu) alias Puyang Penghulu Lebih, Pemimpin pemerintahan “Djagad Besemah Libagh – Semende Panjang" atau dalam istilah Jeme Besemah – Semende sebagai “Mubungan Djagad”. Puyang Pidaran merupakan Mubungan Djagad ke – 7 pada pemerintahan “Djagad Besemah Libagh – Semende Panjang". Berdasarkan silsilahnya, Beliau bernasabkan (Keturunan) ke-7 dari Syech Baharuddin Nur Qodim (Puyang Awak), seorang Wali dan Mubungan Djagad Pertama Besemah Libagh_Semende Panjang dan pendiri Adat Semende.(Fekri Juliansyah:Catatan Sejarah Tanah Semende:2005)
Menengok sejarah perjuangan di Tanah Besemah yaitu pada masa Besemah Mardike (Besemah Merdeka, lepas dari Kesultanan Palembang Darussalam) yakni pada tahun 1821 di Perdipe (sekarang bernama Prahu Dipo), salah satu desa/dusun tertua di Kota Pagaralam berkuasalah seorang pemimpin dan ulama kharismatik yang dikenal dengan nama "Toean lebih Penghoeloe" (Puyang Lebih Penghulu/Penghulu Lebih). Di beberapa tulisan ada yang menyebutnya “Tuanku Imam Perdipe” karena pusat pemerintahannya berada di Perdipe.
Puyang Pidaran alias Toean Lebih Penghulu memimpin pertempuran melawan Kolonial Belanda pada pertengahan Abad ke-19 Masehi atau pada tahun 1849 . Pada akhir Perang Besemah (Sindang Rubuh), Puyang Pidaran menyingkir ke Semende Mekakau (Pulau Beringin) hingga akhirnya diyakini wafat pada tahun 1850 dan dikebumikan di desa Muara Sindang, tepat di tepi Ayik (Sungai) Rambutan.
Berdasarkan penuturan para sesepuh Jurai tue) di antaranya Wanda Subuh Helmi (60), juru kunci makam Puyang Pidaran yang tinggal di desa Pematang Danau, cerita yang berkembang di masyarakat serta hasil wawancara dengan salah seorang keturunannya, TSH.Koernawi Yacob Oemar, Beliau gugur ketika berjuang melawan Belanda dalam persembunyiannya di Ayik Rambutan. Kepala Beliau dipancung Belanda dan dikelilingkan di desa-desa sekitar agar rakyat (baca: Jeme Besemah – Semende ) menghentikan pertempurannya melawan Belanda karena Imam perangnya telah terbunuh. Di desa Ujan Mas, kepala tersebut dirampas oleh Raje Mengkute dkk lalu disembuyikan di hulu Sungai Nasal, Bintuhan, Bengkulu Selatan. Potongan badan beliau beserta istri keduanya, Puyang Remuli di makamkan di desa Pagar Agung, daerah asal Puyang Remuli. Sedangkan istri pertamanya Puyang Nerayu binti Raje Nanggung Baye, wafat saat pembumihangusan Perdipe oleh Belanda.
Dalam versi lain, khususnya dalam mitologi budaya suku Semende, Puyang Pidaran diyakini sirna (mokswa) atau dalam bahasa daerah setempat dinyatakan "silam" saat menghindar dari kepungan Belanda. Dikisahkan, Puyang Pidaran tengah "mencukur" rambutnya yang panjang di Ayik Rambutan dan menghilang tatkala Belanda menembaknya. Inilah yang menambah cerita mistis tentang sosok ulama itu yang diyakini memiliki "karomah" dan kesaktian.
Karena makamnya di pinggiran Ayik Rambutan tersebut banyak dikunjungi para peziarah, maka Beliau lebih dikenal dengan nama “Puyang Rambutan”. Bahkan ada peziarah dan masyarakat yang menuliskannya dengan “Puyang Pidaran Sakti” tetapi hal tersebut sempat dibantah TSH. Koernawi Yacob Oemar, “Tidak ada kata Sakti di belakang namanya!”, tegasnya kepada penulis di dusun Perdipe (Prahu Dipo) tahun 2005 silam. Berdasarkan pengakuan “Wak Bujang”, sapaan akrab penulis kepada Penasehat Laskar Adat Semende ini, jasad Puyang Pidaran dan istri keduanya, Puyang Remuli (di desa Pagar Agung) telah dipindahkan di komplek pemakaman Keramat Dusun Perdipe beberapa tahun lalu. Namun, hal tersebut tak membuat para peziarah mengurungkan niatnya ke Ayik Rambutan. Bagi mereka, Ayik Rambutan tetap menyimpan karomah dan cerita mistis tentang sang ulama, Puyang Pidaran alias Puyang Rambutan.Wallahu ‘alam.
Penulis adalah Pendiri Laskar Adat Semende, Pemerhati Sejarah dan Budaya Besemah Libagh-Semende Panjang, Kontributor Majalah MISTERI, domisili di Banda Aceh_NAD.
SANG MUBUNGAN DJAGAD BESEMAH
Oleh : Fekri Juliansyah
Siapa nyana dibalik rerimbunan pohon di hulu Aliran Sungai yang mengalir tenang di kaki Bukit Gajah, Muarasindang, Kecamatan Sindang Danau, Kabupaten OKU Selatan, Sumatera Selatan ini terdapat makam pejuang kemerdekaan, seorang ulama yang sangat dihormati pada masanya dan pemimpin “ Besemah Libagh – Semende Panjang”….
Ayik Rambutan, demikian masyarakat menyebut nama sungai ini. Udara yang sejuk di siang hari atau udara dingin menusuk tulang ketika senja dan malam hari. Kesan dan aroma mistik pun kental terasa tatkala penulis dan rombongan menyempatkan diri berziarah ke lokasi ini pada Tanggal 23 Juli 2003 silam.(Kisah perjalanan ini lengkap termuat di Majalah MISTERI edisi 350 Hal.22-23 dengan judul: “Ziarah Mistis di Makam Puyang Rambutan”).
Lalu Siapa Sebenarnya Puyang Pidaran?
Puyang Pidaran adalah nama asli dari “ Toean Lebih Penghoeloe” (Puyang Lebih Penghulu) alias Puyang Penghulu Lebih, Pemimpin pemerintahan “Djagad Besemah Libagh – Semende Panjang" atau dalam istilah Jeme Besemah – Semende sebagai “Mubungan Djagad”. Puyang Pidaran merupakan Mubungan Djagad ke – 7 pada pemerintahan “Djagad Besemah Libagh – Semende Panjang". Berdasarkan silsilahnya, Beliau bernasabkan (Keturunan) ke-7 dari Syech Baharuddin Nur Qodim (Puyang Awak), seorang Wali dan Mubungan Djagad Pertama Besemah Libagh_Semende Panjang dan pendiri Adat Semende.(Fekri Juliansyah:Catatan Sejarah Tanah Semende:2005)
Menengok sejarah perjuangan di Tanah Besemah yaitu pada masa Besemah Mardike (Besemah Merdeka, lepas dari Kesultanan Palembang Darussalam) yakni pada tahun 1821 di Perdipe (sekarang bernama Prahu Dipo), salah satu desa/dusun tertua di Kota Pagaralam berkuasalah seorang pemimpin dan ulama kharismatik yang dikenal dengan nama "Toean lebih Penghoeloe" (Puyang Lebih Penghulu/Penghulu Lebih). Di beberapa tulisan ada yang menyebutnya “Tuanku Imam Perdipe” karena pusat pemerintahannya berada di Perdipe.
Puyang Pidaran alias Toean Lebih Penghulu memimpin pertempuran melawan Kolonial Belanda pada pertengahan Abad ke-19 Masehi atau pada tahun 1849 . Pada akhir Perang Besemah (Sindang Rubuh), Puyang Pidaran menyingkir ke Semende Mekakau (Pulau Beringin) hingga akhirnya diyakini wafat pada tahun 1850 dan dikebumikan di desa Muara Sindang, tepat di tepi Ayik (Sungai) Rambutan.
Berdasarkan penuturan para sesepuh Jurai tue) di antaranya Wanda Subuh Helmi (60), juru kunci makam Puyang Pidaran yang tinggal di desa Pematang Danau, cerita yang berkembang di masyarakat serta hasil wawancara dengan salah seorang keturunannya, TSH.Koernawi Yacob Oemar, Beliau gugur ketika berjuang melawan Belanda dalam persembunyiannya di Ayik Rambutan. Kepala Beliau dipancung Belanda dan dikelilingkan di desa-desa sekitar agar rakyat (baca: Jeme Besemah – Semende ) menghentikan pertempurannya melawan Belanda karena Imam perangnya telah terbunuh. Di desa Ujan Mas, kepala tersebut dirampas oleh Raje Mengkute dkk lalu disembuyikan di hulu Sungai Nasal, Bintuhan, Bengkulu Selatan. Potongan badan beliau beserta istri keduanya, Puyang Remuli di makamkan di desa Pagar Agung, daerah asal Puyang Remuli. Sedangkan istri pertamanya Puyang Nerayu binti Raje Nanggung Baye, wafat saat pembumihangusan Perdipe oleh Belanda.
Dalam versi lain, khususnya dalam mitologi budaya suku Semende, Puyang Pidaran diyakini sirna (mokswa) atau dalam bahasa daerah setempat dinyatakan "silam" saat menghindar dari kepungan Belanda. Dikisahkan, Puyang Pidaran tengah "mencukur" rambutnya yang panjang di Ayik Rambutan dan menghilang tatkala Belanda menembaknya. Inilah yang menambah cerita mistis tentang sosok ulama itu yang diyakini memiliki "karomah" dan kesaktian.
Karena makamnya di pinggiran Ayik Rambutan tersebut banyak dikunjungi para peziarah, maka Beliau lebih dikenal dengan nama “Puyang Rambutan”. Bahkan ada peziarah dan masyarakat yang menuliskannya dengan “Puyang Pidaran Sakti” tetapi hal tersebut sempat dibantah TSH. Koernawi Yacob Oemar, “Tidak ada kata Sakti di belakang namanya!”, tegasnya kepada penulis di dusun Perdipe (Prahu Dipo) tahun 2005 silam. Berdasarkan pengakuan “Wak Bujang”, sapaan akrab penulis kepada Penasehat Laskar Adat Semende ini, jasad Puyang Pidaran dan istri keduanya, Puyang Remuli (di desa Pagar Agung) telah dipindahkan di komplek pemakaman Keramat Dusun Perdipe beberapa tahun lalu. Namun, hal tersebut tak membuat para peziarah mengurungkan niatnya ke Ayik Rambutan. Bagi mereka, Ayik Rambutan tetap menyimpan karomah dan cerita mistis tentang sang ulama, Puyang Pidaran alias Puyang Rambutan.Wallahu ‘alam.
Penulis adalah Pendiri Laskar Adat Semende, Pemerhati Sejarah dan Budaya Besemah Libagh-Semende Panjang, Kontributor Majalah MISTERI, domisili di Banda Aceh_NAD.
GURITAN DUSUN PERDIPE
(SEJARAH TANAH SEMENDE)
(SYAIR: FEKRI JULIANSYAH)
Iluk pule pangkal guritan
mane ringkih pangkal pantunan
ini die karang cerite
cerite dusun bedame Perdipe
dusun tue kate Puyang madaknye
Perdipe……..
Negeri itu
Mekkah kecik julukannye
Nerangi Besemah nga tanah Semende
Ayik Lematang di di lembaknye
Talang Tumutan Tujuh itu badahnye…
Tahun itu……..
1483 Masihi
Tecatat dalam kitab Kahas sampai damenye tembe
Syech Baharuddin name jemenye
Nur Qodim itu gelarnye
Puyang Awak anak cucung mantaunye
Ncetuskah adat bedame SEMENDE
Perdipe….
Begilir dame njadikanye becahaye
San di Puyang Awak, Puyang Lebih Penghulu
Hingge Ninik Kiaji Oemar ye meleginde
Hukum Adat ditegakkah!
Hukum Agame dijalankah!
Peturat diagungkah!
Sepate didengaghkah!
Simbur cahaye jadi pesake semista!
Ini die ganjur guritan
empuk setetak mangke keruan
pailah ading sanak kite payagh (payae)kah
tuturan puyang kite indekah...
Di sane….
Tetegak Adat Semende
Tecetus pule Lampik Empat Merdike Due
Lembaga Adat Besendikah Agame
Pencipte banyak pare ulame
Kandik Negakkah Peturat di denie
Mak ini ahi….
Perdipe tinggal cerite
Luk negeri dik benyawe
Banyak jeme dik tau asal-usulnye
Banyak pule ye melupekanye
ui...bejalan ke Pelang Kenidai
jangah dik naik ke makam Puyang
guritan kucukupkah kudai
jangah dibalik empuk dik ribang
(SYAIR: FEKRI JULIANSYAH)
Iluk pule pangkal guritan
mane ringkih pangkal pantunan
ini die karang cerite
cerite dusun bedame Perdipe
dusun tue kate Puyang madaknye
Perdipe……..
Negeri itu
Mekkah kecik julukannye
Nerangi Besemah nga tanah Semende
Ayik Lematang di di lembaknye
Talang Tumutan Tujuh itu badahnye…
Tahun itu……..
1483 Masihi
Tecatat dalam kitab Kahas sampai damenye tembe
Syech Baharuddin name jemenye
Nur Qodim itu gelarnye
Puyang Awak anak cucung mantaunye
Ncetuskah adat bedame SEMENDE
Perdipe….
Begilir dame njadikanye becahaye
San di Puyang Awak, Puyang Lebih Penghulu
Hingge Ninik Kiaji Oemar ye meleginde
Hukum Adat ditegakkah!
Hukum Agame dijalankah!
Peturat diagungkah!
Sepate didengaghkah!
Simbur cahaye jadi pesake semista!
Ini die ganjur guritan
empuk setetak mangke keruan
pailah ading sanak kite payagh (payae)kah
tuturan puyang kite indekah...
Di sane….
Tetegak Adat Semende
Tecetus pule Lampik Empat Merdike Due
Lembaga Adat Besendikah Agame
Pencipte banyak pare ulame
Kandik Negakkah Peturat di denie
Mak ini ahi….
Perdipe tinggal cerite
Luk negeri dik benyawe
Banyak jeme dik tau asal-usulnye
Banyak pule ye melupekanye
ui...bejalan ke Pelang Kenidai
jangah dik naik ke makam Puyang
guritan kucukupkah kudai
jangah dibalik empuk dik ribang
Kajian di Situs-Situs Megalitik Besemah
Religi dan Seni Masa Prasejarah
Kajian di Situs-Situs Megalitik Pasemah
Oleh : Kristantina Indriastuti
Pendahuluan
Religi ( religion) dalam konteks prasejarah bukanlah mengandung arti mengenai kondisi agama seperti sekarang ini, namun pada tingkat perkembangan mula-mula konsepsi religi berhubungan dengan masalah kehidupan dan kematian. Gagasan ini pada gilirannya melahirkan interaksi antara yang telah mati dan yang masih hidup, ( Diman S, 1989:407). Menurut Wallace religi merupakan seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi mitos, dan yang menggerakkan kekuatan-kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai atau umtuk menghindarkan sesuatu perubahan keadaan pada manusia atau alam. Wallace 1966:107). Oleh karena itu hal-hal yang berkenaan dengan religi mencakup pula seperangkat kepercayaan yang berkenaan dengan sesuatu yang bersifat supranatural, simbol-simbol sakral dan berkaitan dengan ekspresi dari emosi manusia dalam lingkup religi, serta nilai-nilai moral yang menghubungkan antara perasaan manusia dengan dunia supernatural.
Interaksi manusia dengan leluhurnya mengalami perkembangan yang luar biasa pada masa berlangsungnya kebudayaan megalitik. Secara umum kebudayaan megalitik mengacu kepada dan berorientasi pada kekuatan-kekuatan supra natural yang mengaitkan pada kepercayaan akan adanya kekuatan gaib pada benda maupun mahkluk hidup dan kepercayaan adanya kekuatan roh dan kekuatan pada arwah nenek moyang ( Haris Sukendar, 2003: 27 ). Aspek religi pada masyarakat megalitik yang diketengahkan pada tulisan ini bermuara pada eksistensi bangunan-bangunan megalitik yang terdapat di dataran tinggi Pasemah yang sudah mengalami kemajuan, seiring dengan terjaminnya kebutuhan hidup dan dengan ciri kehidupan yang sudah menetap.
Meningkatnya taraf hidup masyarakat pendukung megalitik Pasemah tersebut tidak terlepas dari kearifan masa lalu yang mengubah pola pikir manusia dalam menyerap dan mengembangkan tehnologi demi mendukung kehidupan mereka, sehingga terciptalah alat-alat bantu produksi maupun alat rumah tangga sampai kepada membentuk spesialisasi kerja sesuai dengan kecakapan dan keahlian tertentu. Implikasi dari keadaan tersebut membuka alam pikir mereka tentang sesuatu dan sangat berpengaruh bagi kehidupan mereka, sehingga lahirlah embrio kepercayaan yang termanifestasikan dalam karya-karya yang monumental berupa bangunan-bangunan megalitik yang dapat kita lihat sampai saat ini. Eksistensi bangunan megalitik di dataran tinggi Pasemah oleh salah seorang arkeolog bangsa asing dikatakan: the strongly dynamic agitated yaitu berdasarkan atas bukti-bukti akan tampilnya arca-arca megalitik yang sifatnya dinamis dan menunjukkan perubahan-perubahan secara mendasar dari bentuk arca menhir yang sifatnya statis kepada arca-arca yang dipahatkan dengan anggota tubuh dan badan yang mengandung gerak bervariasi ( Haris Sukendar, 1999:8 ). Dengan kata lain disamping mewujudkan fungsi pemujaan, pendukung budaya megalitik di Pasemah telah memberi petunjuk bahwa seorang seniman dengan landasan imajinasinya yang berorientasi pada alam kenyataan akan melahirkan pahatan-pahatan atau hasil karya dengan bentuk karya-karya yang indah, namun apabila dilihat dari hasil pahatan situs megalitik di Pasemah telah memberikan gambaran bahwa imajinasi sang seniman telah terkontaminasi oleh tekanan-tekanan batiniah yang berorentasi religi. ( Sukendar, 1999: 181).
Permasalahan
Bangunan-banguna megalitik di Pasemah dengan karakteristik morfologi dan fungsinya dapat kita amati bagaimana hubungan megalitik-megalitik tersebut terhadap kehidupan religi dan tampilan seni yang kontemporer pada zamannya. Dari data-data arkeologis yang menjadi acuan penulisan ini adalah berangkat dari asumsi adanya keterkaitan antara pola hidup yang memunculkan kehidupan religi dan tercermin dari bentuk karya seni. Christoper Dawson dalam bukunya ”Religion and Culture” mengemukakan cara hidup mempengaruhi religi dan religi mempengaruhi cara hidup. Apa saja yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat selalu dihubungkan dengan religi, sehingga setiap kegiatan ekonomi maupun sosial mempengaruhi bentuk yang berhubungan dengan religi. ( Dawson C, 1948:57 ).
Metode
Dalam menyajikan tulisan ini, penulis mencoba melihat bagaimana hubungan bangunan-bangunan megalitik di Pasemah dengan kehidupan religi dan seni, metode yang akan digunakan adalah metode gabungan antara induktif-deduktif seperti yang pernah dilontarkan oleh Mundarjito dalam PIA IV di Cipanas tahun1986. Metode induktif memulai cara kegiataannya melalui tahap-tahap yakni pengumpulan data, pengolahan data , sintesis dan interpretasi, sedangkanpada penelitian deduktif dimulai dengan perumusan masalah, menarik hipotesa, dan kemudian melakukan pembahasan secara teoritis dan terakhir penyimpulan. ( Mundarjito, 1986: 201).
Landasan Teori
Tradisi megalitik merupakan suatu tradisi yang berhubungan erat dengan batu-batu besar. Pengertian megalitik menurut Van der Hoop mencakup tiga unsur pokok yaitu : monumen besar, batunya utuh ( monolith ), masuk dalam budaya prasejarah. ( Hoop, 1932). Namun dalam perkembangannya, Van Stein Callenfels mengatakan bahwa pada prinsipnya bangunan megalitik didirikan untuk pemujaan kepada arwah nenek moyang. ( Callenfels, Van Stein, 1961,66 ), begitupula beberapa pendapat para ahli seperti yang diinformasikan oleh Von Heine Geldern, Rumbi Mulia, R.P.Soejono dll, bahwa munculnya megalitik tidak terpaku karena usaha manusia untuk senantiasa mendekatkan diri pada arwah leluhur, akan tetapi ide pembuatan megalitik telah diilhami oleh kehidupan duniawi antara lain pendirian megalitik untuk menjaga martabat, harkat serta nama dan kemasyuran. ( Geldern, 1945; Rumbi Mulia, 1981, Sukendar; 2003; 28 ).
Dari statement diatas sangat jelas kepercayaan ( religi ), dan kemashuran seseorang yang memiliki ego sentris kekuasaaan seorang pemimpin dengan sangat kuat mempengaruhi terciptanya karya seni yang ada seperti pada pahatan megalitik di Pasemah. Unsur seni yang ditampilkan dalam tulisan ini mengacu pada definisi seni rupa yakni sebagai upaya penciptaan keindahan maupun berkomunikasi dengan peminatnya terutama yang dapat dinikmati oleh mata. Dalam seni rupa tercakup seni lukis, seni patung, seni bangunan dan seni kerajinan. ( Soemiyati A.S, 1996 : 336 ).
Pengambilan data yang diambil dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengaplikasikan metode induksi-deduksi ( Mundarjito: ibid ), dan mengambil suatu hipotesa ”bahwa masyarakat yang telah hidup dengan mengenal bercocok tanam sederhana dan penjinakan hewan-hewan tertentu telah mengalami taraf hidup yang lebih maju, dari masa-masa sebelumnya dan oleh karena surplus bahan makanan tersebut mendorong timbulnya bentuk penghormatan kepada arwah nenek moyang “. Salah satu segi yang menonjol dalam kehidupan bermasyarakat adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah kematian dan timbullah kepercayaan bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang tersebut meninggal sangat mempengaruhi kehidupan manusia. (Soejono, 1984:204).
Keadaan Lingkungan
Situs-situs megalitik di daratan tinggi Pasemah meliputi daerah yang luasnya sekitar 80 km 2. Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, di puncak gunung, di lereng dan ada yang di lembah. Pada umumnya situs-situs megalitik berada di ketinggian 400 meter dpl, karena terletak di dataran tinggi maka daerah ini mempunyai curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Daerah Pasemah wilayahnya meliputi Bukit Barisan dan di kaki pegunungan Gumai. Satuan morfologi pegunungan merupakan tempat tersedianya bahan batu hasil letusan gunung api Dempo yang menyebarkan lahar dan lava serta batu-batuan vulkanis. Letusan gunung api inilah yang menyebarkan batu-batuan sampai ke daerah – daerah yang termasuk satuan morfologi bergelombang dan satuan morfologi daratan. Selain itu di daerah Pasemah terdapat alur-alur sungai besar dan kecil yang memudahkan transportasi air dan sumber kehidupan. Pada umumnya keadaan alam yang subur memudahkan mereka untuk berkebun dan membudidayakan ternak dan membuat rumah - rumah hunian dengan tiang yang tinggi.
Hasil Seni di Situs-Situs Megalitik di Pasemah
Data awal yang membahas tentang bangunan megalitik dan arca-arca megalitik di Pasemah adalah L.Ullmann,1850 yang menulis artikel tentang “Hindoe-belden in de binnenlanden van Palembang”selanjutnya E.P Tombrink dan Westenenk menyimpulkan yang sama bahwa peninggalan di daerah Pasemah merupakan hasil dari pengaruh Hindu. Kemudian pada tahun 1930 -1932 Van Erde seorang tokoh bangsa Belanda menugaskan ahli yang lain yaitu Van der Hoop untuk memulai penelitiannya tentang latar belakang tinggalan batu besar Pasemah. Dari penelitian yang dilakukannya tersebut maka pada tahun 1932 diterbitkanlah sebuah buku yang menarik berjudul “Megalithic Remains in South Sumatra”. Dari hasil penelitiannya ini maka terbukalah cara pandangbaru tentang tinggalan megalitik di bumi Pasemah. Penelitian tentang tinggalan megalitik di Pasemah ini selanjutnya diteliti lagi oleh beberapa arkeolog dari Puslitbang Arkenas di Jakarta dan juga oleh beberapa peneliti dari Balai Arkeologi Palembang.
Dalam kaitannya dengan judul penulisan ini penulis mengambil data dari beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya antara lain laporan penelitian yang dilakukan oleh Budi Wiyana, Haris Sukendar, dan Van der Hoop yang mempunyai relevansi dengan kehidupan yang menggambarkan kehidupan seni dan religi masyarakat pendukung budaya megalitik di Pasemah. Adapun situs-situs yang mengandung tinggalan arkeologi tersebut antara lain:
1. Situs-situs arca megalitik
Situs Tanjung Aro menggambarkan pahatan seseorang sedang berkelahi melawan ular
Situs Muara Danau menggambarkan pahatan seorang menggendong anak
Situs Muara Dua menggambarkan seseorang yang menggendong sesuatu pada punggungnya
Situs Gunung Megang menggambarkan tokoh manusia yang menindih gajah dalam posisi terlentang
Situs Tebing Tinggi dipahatkan gambaran orang mengendarai kerbau
Situs Benua Keling dipahatkan orang naik gajah
Situs Gunung Megang terdapat arca kepala manusia
Situs Kota Raya Lembak terdapat arca kepala manusia
Situs Tinggi hari dipahatkan seseorang sedang duduk dengan menggendong gajah kecil, dan arca babi hutan yang belum selesai, selain itu terdapat menhir yang terdapat tokoh manusia dan buaya.
Situs Sinjar Bulan terdapat pahatan orang duduk membimbing anak kecil
Situs Tebat Sibentur dipahatkan seseorang memakai kalung.
Situs tegur wangi terdapat arca 3 buah
Situs Tanjung Sirih terdapat arca yang menggambarkan orang naik kerbau, orang memakai helm,dua orang bergendongan dan harimau menekam anak kecil.
Situs Tanjung Telang terdapat pahatan orang membopong gajah.
Arca dari situs di Air Purah, melukiskan dua orang prajurit yang berhadap-hadapan, seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan yang lain memegang tanduk kerbau
2. Lukisan pada batu cadas dan kubur batu, antara lain:
Situs Tanjung Aro, lukisan orang naik kerbau
Situs Kotaraya Lembak hiasan sulur-suluran, binatang melata, lingkaran consentris
Situs Tegur wangi dipahatkan gambar orang berlari sambil bawa nekara di punggung, serta terdapat semacam sinar dan sayap. Pada bagian dinding bawah batu cadas terdapat tiga buah manusia kangkang dan goresan garis-garis serta lubang – lubang kecil
Situs Muara Pinang terdapat goresan berbentuk manusia
Situs Gunung Megang dipahatkan padsa batu datar menggambarkan garis – garis berbentuk ikan dan tombak
Situs di Tebat Sibentur menggambarkan anggota badan sebatas dada ke bawah.
Kehidupan Religi dan Seni di Situs-Situs Megalitik Pasemah.
Definisi senirupa oleh Dr Soemijati AS dikatakan sebagai upaya penciptaan keindahan yang mampu berkomunikasi dengan peminatnya terutama yang dapat dinikmati melalui mata. Dalam seni rupa tercakup sen lukis, seni patung, seni bangunan dan seni kerajinan ( Soemijati A.S, 1996: 336). Pada masa berkembangnya kehidupan bercocok tanam menetap konsep hidup masyarakat pada waktu itu sangat tergantung pada sumber daya alam. Lingkungan alam mempunyai pengaruh yang kuat dalam kehidupan di masyarakat sehingga memunculkan dinamika sebagi upaya menyiasati kondisi lingkungan baik biotik maupun abiotik dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok mereka, sehingga hal ini mendorong timbulnya sepesialisasi keahlian dan organisasi kemasyarakatan demikian pula keberadaan lingkungan alam dengan berbagai jenis fauna dan flora telah mempengaruhi inspirasi dalam karya seni seperti seni patung, seni lukis, seni pahat, dll ( Haris Sukendar,2003: 18 ).
Dalam kehidupan manusia alam sangat mempengaruhi panca indranya sehingga antara keduanya timbul interpretasi timbal balik ( Soemijati 1996: 336). Alam memberikan sumber inspirasi kehidupan, sehingga konsep kepercayaan inilah yang menimbulkan kepercayaan tertentu, yakni;
Adanya anggapan bahwa tanah merupakan unsur penting di dalam kehidupan, hal tersebut merupakan pendorong untuk memanfaatkan lahan pertanian dengan baik.
Sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati merupakan segi yang menonjol dalam masyarakat.. Kepercayaan bahwa roh seseorangtidak lenyap, tetapi hidup terus di alamnya sendiri sangat mempengaruhi kehidupan manusia.
Kematian dianggap tidak membawa perubahan dalam kedudukan ( status sosial ), keadaan dan sifat seseorang ( Diman Suryanto, 1990: 414)
Konsep religi inilah yang mendorong para seniman mengekspresikan karya karyanya dalam bentuk seni lukis, yang merupakan visualisasi lambang-lambang seperti matahari, bulan, pohon, binatang dan benda-benda lain yang diwujudkan / dilukis pada dinding atau batu cadas, bentuk-bentuk yang dilukiskan pada dinding – dinding Goa tersebut beraneka ragam baik yang bersifat naturalistik dengan garis-garis sederhana maupun abstrak. Secara umum dikatakan bahwa permulaan seni manusia prasejarah diperkirakan lahir pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Tradisi yang bersifat artistik, goresan, maupun pahatan awal mulanya diterakan pada dinding-dinding goa atau ceruk. ( Kosasih, 1982 ; 67 ). Namun dalam perkembangannya di Indonesia baru ada pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, yang ditemukan di Indonesia bagian Timur dengan bentuk-bentuk tampilannya sangat beragam baik secara nyata maupun secara abstrak ( I Dewa Kompiang Gede, 1997; 40 ).
Dalam tradisi megalitik keindahan merupakan sesuatu yang penting dimana keindahan suatu obyek megalitik dipengaruhi oleh maksud dan tujuan pembuatan obyek itu sendiri, Menurut Soemijati A.S. dikatakan karya seni prasejarah ditentukan oleh faktor-faktor yang mendukung penampilannya, faktor-faktor tersebut adalah kepercayaan sehingga karya seni tersebut penggambarannya kurang memperhatikan kekuatan anatomi serta posisinya.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Pasemah, terlihat bahwa cara-cara pemahatan yang halus , rumit dan menarik ( Haris Sukendar, 1985: 15 ). Tampilan seni yang ditampilkan oleh pendukung tradisi megalitik di Pasemah tersebut dapat dijumpai pada pahatan-pahatan arca megalitik, dan dinamika seni pada megalitik Pasemah pun dapat kita perhatikan pada lukisan-lukisan dinding pada kubur-kubur batu di situs Tanjung Aro, situs Tegur wangi, dan situs Kota Raya Lembak. Seni lukis yang ditampilkan berupa lukisan manusia, lukisan fauna, sulur-suluran benda buatan manusia, maupun benda alam. Lukisan yang diterapkan pada dinding kubur batu tersebut memiliki kualitas tinggi dan telah mengenal percampuran warna yaitu; warna hitam dari bahan arang, warna putih , dan warna kuning dari tanah liat dan warna merah dari hematite merah. ( Sukendar, 2003; 121 ). Pemberian warna merupakan simbol kepercayaan akan makna religius seperti warna merah melambangkan keberanian, warna kuning melambangkan keagungan dan warna putih melambangkan kesucian. Selain itu temuan arca-arca batu yang dinyatakan Von Heine Geldern bersifat dinamis menggambarkan bentuk-bentuk binatang seperti gajah, harimau, ular.
Plastisitas seni arca yang menonjol ini menunjukkan tingkat keahlian si pemahat. Seni ataupun estetika yang dimunculkan pada kehidupan manusia prasejarah tidak terlepas dari tujuan dasar pembuatannya yakni untuk memenuhi kebutuhan rohani. Tampilnya pahatan-pahatan arca baik yang bersifat statis maupun dinamis mengacu pada konsepsi kepercayaan yang mendasari pola pikir masyarakat dalam hubungannya dengan pemujaan arwah leluhur sebagai usaha mendekatkan diri kepada yang kuasa ( super natural power ). Pahatan – pahatan arca megalitik Pasemah menurut Haris Sukendar mempunyai fungsi yang sangat berbeda dengan arca menhir yang berkarakteristik statis di daerah gunung Kidul atau di Bondowoso ( Sukendar, 2003; 54 ). Bentuk penghormatan dalam pemujaan divisualisasikan oleh tangan – tangan terampil pada saat itu dengan menghadirkan pahatan-pahatan yang mencerminkan kekuatan dari pemimpin / tokoh seperti yang dapat kita jumpai pada arca megalitik di situs Belumai, situs Tinggi hari, situs Pulau Panggung, situs Tanjung Aro. ( Budi Wiyana, 1996 ; 7 – 8 ). Sedangkan pada arca-arca megalitik yang ditemukan hanya berupa kepala saja dapat dikaitkan dengan pengorbanan untuk memperkuat pendirian bangunan megalitik, hal ini mengingatkan juga dengan adanya aktivitas pemujaan dalam pemberian bekal kubur pada penguburan di situs Padang sepan, kabupaten Bengkulu Utara.
Hadirnya budaya megalitik Pasemah yang menonjolkan seni dalam bentuk keindahan, kemewahan, keagungan dan kegagahan telah dimunculkan dalam bentuk pahatan-pahatan pada arca-arca megalitik selain berfungsi sebagai sosiotehnik juga idiotehnik. Konsep pendirian megalitk tersebut dapat dikelompokan sbb:
Konsepsi sakral berkaitan erat dengan arwah nenek moyang masyarakat yang sangat kental dengan hal pemujaan kepada roh leluhur, dan konsepsi sakral yang berkaitan dengan kekuatan gaib, yang dapat dijumpai dalam bentuk pahatan muka manusia, dan pahatan-pahatan binatang.
Konsepsi semi sakral antara lain terwujud dalam pendirian bangunan-bangunan megalitik seperti yang tercermin pada lambang sifat raja seperti ayam jantan, buaya, kura-kura, bulan, lambang-lambang persatuan seperti: pilar, pola hias lingkaran persatuan, lambang kekuasaan seperti ujung tombak, segitiga, lambing pemimpin/ketua adat seperti arca megalitik .
Konsepsi profan, pendirian bangunan megalitik yang tercermin dari pola hias berbentuk geometris, seperti garis lurus, gelombang, belah ketupat.
PENUTUP
Keberadaan tinggalan megalitik di dataran tinggi Pasemah dengan warna, corak serta keunikan tersendiri telah mengindikasikan perilaku masayarakat yang hidup saat itu telah memiliki kebudayan yang tinggi, dan telah terjalin kerjasama yang sehat yang dituntut atas dasar kepentingan bersama di atas kepentingan individu. Tradisi menghormati orang – orang yang dianggap berperan dalam masyarakat menjelma dalam upacara pemujaan nenek moyang dan pendirian bangunan-bangunan megalitik. Tidak terlepas dari aspek-aspek tersebut di atas tampaknya unsur seni juga menjadi pendorong para seniman untuk mengekspresikan karyanya yang nampak dari goresan-goresan pada dinding batu maupun arca-arca megalitik yang menonjolkan karya seni yang cukup tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Budi Wiyana . 1996. Survei Situs-Situs Megalitik Di Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Palembang. Palembang.
Dawson Christoper . 1948. Religion and Culture, London : Sheed & Ward.
Diman Suryanto, 1990. “Kajian Agrikultur Berdasarkan Data Arkeologi” Analisa Hasil Penelitian Arkeologi. Hal. 414.
I Dewa Kompiang Gede. 1989. Relief Prasejarah di Desa Maniklinju. Balai Arkeologi Denpasar.
Haris Sukendar. 2003. Megalitik Bumi Pasemah. Peranan Serta Fungsinya. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian Dan Pengembangan Budaya Pusat Penelitian Arkeologi. Jakarta.
Heine Geldern, R. von dan Loeb E.M, 1945. Prehistoric Research in the Netherlands Indies”, Science and Scientists in the Netherlands Indies. New York. Board for the Netherlands Indies, New York: Board for Netherlands Indies, Suriname and Curacao.
Hoop, A.N.J.Th.a.Th. van der. 1932. Megalithic Remain in South Sumatra. Zutpen Netherland: W.J.Thieme & Cie
Kosasih. 1982/1983: Lukisan Gua di Indonesia Sebagai Sumber data Penelitian Arkeologi. Analisa Kebudayaan. Hal.66-79.
Mundardjito, 1986. “Penalaran Induktif-Deduktif dalam Arkeologi”. PIA IV buku IV: Konsepsi dan Metodologi, Hal. 197-207. Jakarta: Puslit Arkenas.
Rumbi Mulia, 1980. ‘Beberapa Catatan Mengenai Arca-arca yang disebut arca tipe Polinesia”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Puslit Arkenas.
Soejono, R.P, 1977. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia I, Jakarta: Balai Pustaka.
Soemijati, A.S. 1986. Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII. Cipanas. Hal. 336.
Wallace, Anthony F.C., 1996. Religion: an anthropological View. New York: Random House.
Sumber : http://www.balarpalembang.go.id/Sidda_Tantin_Religi.htm
Kajian di Situs-Situs Megalitik Pasemah
Oleh : Kristantina Indriastuti
Pendahuluan
Religi ( religion) dalam konteks prasejarah bukanlah mengandung arti mengenai kondisi agama seperti sekarang ini, namun pada tingkat perkembangan mula-mula konsepsi religi berhubungan dengan masalah kehidupan dan kematian. Gagasan ini pada gilirannya melahirkan interaksi antara yang telah mati dan yang masih hidup, ( Diman S, 1989:407). Menurut Wallace religi merupakan seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi mitos, dan yang menggerakkan kekuatan-kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai atau umtuk menghindarkan sesuatu perubahan keadaan pada manusia atau alam. Wallace 1966:107). Oleh karena itu hal-hal yang berkenaan dengan religi mencakup pula seperangkat kepercayaan yang berkenaan dengan sesuatu yang bersifat supranatural, simbol-simbol sakral dan berkaitan dengan ekspresi dari emosi manusia dalam lingkup religi, serta nilai-nilai moral yang menghubungkan antara perasaan manusia dengan dunia supernatural.
Interaksi manusia dengan leluhurnya mengalami perkembangan yang luar biasa pada masa berlangsungnya kebudayaan megalitik. Secara umum kebudayaan megalitik mengacu kepada dan berorientasi pada kekuatan-kekuatan supra natural yang mengaitkan pada kepercayaan akan adanya kekuatan gaib pada benda maupun mahkluk hidup dan kepercayaan adanya kekuatan roh dan kekuatan pada arwah nenek moyang ( Haris Sukendar, 2003: 27 ). Aspek religi pada masyarakat megalitik yang diketengahkan pada tulisan ini bermuara pada eksistensi bangunan-bangunan megalitik yang terdapat di dataran tinggi Pasemah yang sudah mengalami kemajuan, seiring dengan terjaminnya kebutuhan hidup dan dengan ciri kehidupan yang sudah menetap.
Meningkatnya taraf hidup masyarakat pendukung megalitik Pasemah tersebut tidak terlepas dari kearifan masa lalu yang mengubah pola pikir manusia dalam menyerap dan mengembangkan tehnologi demi mendukung kehidupan mereka, sehingga terciptalah alat-alat bantu produksi maupun alat rumah tangga sampai kepada membentuk spesialisasi kerja sesuai dengan kecakapan dan keahlian tertentu. Implikasi dari keadaan tersebut membuka alam pikir mereka tentang sesuatu dan sangat berpengaruh bagi kehidupan mereka, sehingga lahirlah embrio kepercayaan yang termanifestasikan dalam karya-karya yang monumental berupa bangunan-bangunan megalitik yang dapat kita lihat sampai saat ini. Eksistensi bangunan megalitik di dataran tinggi Pasemah oleh salah seorang arkeolog bangsa asing dikatakan: the strongly dynamic agitated yaitu berdasarkan atas bukti-bukti akan tampilnya arca-arca megalitik yang sifatnya dinamis dan menunjukkan perubahan-perubahan secara mendasar dari bentuk arca menhir yang sifatnya statis kepada arca-arca yang dipahatkan dengan anggota tubuh dan badan yang mengandung gerak bervariasi ( Haris Sukendar, 1999:8 ). Dengan kata lain disamping mewujudkan fungsi pemujaan, pendukung budaya megalitik di Pasemah telah memberi petunjuk bahwa seorang seniman dengan landasan imajinasinya yang berorientasi pada alam kenyataan akan melahirkan pahatan-pahatan atau hasil karya dengan bentuk karya-karya yang indah, namun apabila dilihat dari hasil pahatan situs megalitik di Pasemah telah memberikan gambaran bahwa imajinasi sang seniman telah terkontaminasi oleh tekanan-tekanan batiniah yang berorentasi religi. ( Sukendar, 1999: 181).
Permasalahan
Bangunan-banguna megalitik di Pasemah dengan karakteristik morfologi dan fungsinya dapat kita amati bagaimana hubungan megalitik-megalitik tersebut terhadap kehidupan religi dan tampilan seni yang kontemporer pada zamannya. Dari data-data arkeologis yang menjadi acuan penulisan ini adalah berangkat dari asumsi adanya keterkaitan antara pola hidup yang memunculkan kehidupan religi dan tercermin dari bentuk karya seni. Christoper Dawson dalam bukunya ”Religion and Culture” mengemukakan cara hidup mempengaruhi religi dan religi mempengaruhi cara hidup. Apa saja yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat selalu dihubungkan dengan religi, sehingga setiap kegiatan ekonomi maupun sosial mempengaruhi bentuk yang berhubungan dengan religi. ( Dawson C, 1948:57 ).
Metode
Dalam menyajikan tulisan ini, penulis mencoba melihat bagaimana hubungan bangunan-bangunan megalitik di Pasemah dengan kehidupan religi dan seni, metode yang akan digunakan adalah metode gabungan antara induktif-deduktif seperti yang pernah dilontarkan oleh Mundarjito dalam PIA IV di Cipanas tahun1986. Metode induktif memulai cara kegiataannya melalui tahap-tahap yakni pengumpulan data, pengolahan data , sintesis dan interpretasi, sedangkanpada penelitian deduktif dimulai dengan perumusan masalah, menarik hipotesa, dan kemudian melakukan pembahasan secara teoritis dan terakhir penyimpulan. ( Mundarjito, 1986: 201).
Landasan Teori
Tradisi megalitik merupakan suatu tradisi yang berhubungan erat dengan batu-batu besar. Pengertian megalitik menurut Van der Hoop mencakup tiga unsur pokok yaitu : monumen besar, batunya utuh ( monolith ), masuk dalam budaya prasejarah. ( Hoop, 1932). Namun dalam perkembangannya, Van Stein Callenfels mengatakan bahwa pada prinsipnya bangunan megalitik didirikan untuk pemujaan kepada arwah nenek moyang. ( Callenfels, Van Stein, 1961,66 ), begitupula beberapa pendapat para ahli seperti yang diinformasikan oleh Von Heine Geldern, Rumbi Mulia, R.P.Soejono dll, bahwa munculnya megalitik tidak terpaku karena usaha manusia untuk senantiasa mendekatkan diri pada arwah leluhur, akan tetapi ide pembuatan megalitik telah diilhami oleh kehidupan duniawi antara lain pendirian megalitik untuk menjaga martabat, harkat serta nama dan kemasyuran. ( Geldern, 1945; Rumbi Mulia, 1981, Sukendar; 2003; 28 ).
Dari statement diatas sangat jelas kepercayaan ( religi ), dan kemashuran seseorang yang memiliki ego sentris kekuasaaan seorang pemimpin dengan sangat kuat mempengaruhi terciptanya karya seni yang ada seperti pada pahatan megalitik di Pasemah. Unsur seni yang ditampilkan dalam tulisan ini mengacu pada definisi seni rupa yakni sebagai upaya penciptaan keindahan maupun berkomunikasi dengan peminatnya terutama yang dapat dinikmati oleh mata. Dalam seni rupa tercakup seni lukis, seni patung, seni bangunan dan seni kerajinan. ( Soemiyati A.S, 1996 : 336 ).
Pengambilan data yang diambil dari berbagai penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dengan mengaplikasikan metode induksi-deduksi ( Mundarjito: ibid ), dan mengambil suatu hipotesa ”bahwa masyarakat yang telah hidup dengan mengenal bercocok tanam sederhana dan penjinakan hewan-hewan tertentu telah mengalami taraf hidup yang lebih maju, dari masa-masa sebelumnya dan oleh karena surplus bahan makanan tersebut mendorong timbulnya bentuk penghormatan kepada arwah nenek moyang “. Salah satu segi yang menonjol dalam kehidupan bermasyarakat adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah kematian dan timbullah kepercayaan bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang tersebut meninggal sangat mempengaruhi kehidupan manusia. (Soejono, 1984:204).
Keadaan Lingkungan
Situs-situs megalitik di daratan tinggi Pasemah meliputi daerah yang luasnya sekitar 80 km 2. Situs-situs megalitik tersebar di dataran tinggi, di puncak gunung, di lereng dan ada yang di lembah. Pada umumnya situs-situs megalitik berada di ketinggian 400 meter dpl, karena terletak di dataran tinggi maka daerah ini mempunyai curah hujan yang tinggi sepanjang tahun. Daerah Pasemah wilayahnya meliputi Bukit Barisan dan di kaki pegunungan Gumai. Satuan morfologi pegunungan merupakan tempat tersedianya bahan batu hasil letusan gunung api Dempo yang menyebarkan lahar dan lava serta batu-batuan vulkanis. Letusan gunung api inilah yang menyebarkan batu-batuan sampai ke daerah – daerah yang termasuk satuan morfologi bergelombang dan satuan morfologi daratan. Selain itu di daerah Pasemah terdapat alur-alur sungai besar dan kecil yang memudahkan transportasi air dan sumber kehidupan. Pada umumnya keadaan alam yang subur memudahkan mereka untuk berkebun dan membudidayakan ternak dan membuat rumah - rumah hunian dengan tiang yang tinggi.
Hasil Seni di Situs-Situs Megalitik di Pasemah
Data awal yang membahas tentang bangunan megalitik dan arca-arca megalitik di Pasemah adalah L.Ullmann,1850 yang menulis artikel tentang “Hindoe-belden in de binnenlanden van Palembang”selanjutnya E.P Tombrink dan Westenenk menyimpulkan yang sama bahwa peninggalan di daerah Pasemah merupakan hasil dari pengaruh Hindu. Kemudian pada tahun 1930 -1932 Van Erde seorang tokoh bangsa Belanda menugaskan ahli yang lain yaitu Van der Hoop untuk memulai penelitiannya tentang latar belakang tinggalan batu besar Pasemah. Dari penelitian yang dilakukannya tersebut maka pada tahun 1932 diterbitkanlah sebuah buku yang menarik berjudul “Megalithic Remains in South Sumatra”. Dari hasil penelitiannya ini maka terbukalah cara pandangbaru tentang tinggalan megalitik di bumi Pasemah. Penelitian tentang tinggalan megalitik di Pasemah ini selanjutnya diteliti lagi oleh beberapa arkeolog dari Puslitbang Arkenas di Jakarta dan juga oleh beberapa peneliti dari Balai Arkeologi Palembang.
Dalam kaitannya dengan judul penulisan ini penulis mengambil data dari beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya antara lain laporan penelitian yang dilakukan oleh Budi Wiyana, Haris Sukendar, dan Van der Hoop yang mempunyai relevansi dengan kehidupan yang menggambarkan kehidupan seni dan religi masyarakat pendukung budaya megalitik di Pasemah. Adapun situs-situs yang mengandung tinggalan arkeologi tersebut antara lain:
1. Situs-situs arca megalitik
Situs Tanjung Aro menggambarkan pahatan seseorang sedang berkelahi melawan ular
Situs Muara Danau menggambarkan pahatan seorang menggendong anak
Situs Muara Dua menggambarkan seseorang yang menggendong sesuatu pada punggungnya
Situs Gunung Megang menggambarkan tokoh manusia yang menindih gajah dalam posisi terlentang
Situs Tebing Tinggi dipahatkan gambaran orang mengendarai kerbau
Situs Benua Keling dipahatkan orang naik gajah
Situs Gunung Megang terdapat arca kepala manusia
Situs Kota Raya Lembak terdapat arca kepala manusia
Situs Tinggi hari dipahatkan seseorang sedang duduk dengan menggendong gajah kecil, dan arca babi hutan yang belum selesai, selain itu terdapat menhir yang terdapat tokoh manusia dan buaya.
Situs Sinjar Bulan terdapat pahatan orang duduk membimbing anak kecil
Situs Tebat Sibentur dipahatkan seseorang memakai kalung.
Situs tegur wangi terdapat arca 3 buah
Situs Tanjung Sirih terdapat arca yang menggambarkan orang naik kerbau, orang memakai helm,dua orang bergendongan dan harimau menekam anak kecil.
Situs Tanjung Telang terdapat pahatan orang membopong gajah.
Arca dari situs di Air Purah, melukiskan dua orang prajurit yang berhadap-hadapan, seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, dan yang lain memegang tanduk kerbau
2. Lukisan pada batu cadas dan kubur batu, antara lain:
Situs Tanjung Aro, lukisan orang naik kerbau
Situs Kotaraya Lembak hiasan sulur-suluran, binatang melata, lingkaran consentris
Situs Tegur wangi dipahatkan gambar orang berlari sambil bawa nekara di punggung, serta terdapat semacam sinar dan sayap. Pada bagian dinding bawah batu cadas terdapat tiga buah manusia kangkang dan goresan garis-garis serta lubang – lubang kecil
Situs Muara Pinang terdapat goresan berbentuk manusia
Situs Gunung Megang dipahatkan padsa batu datar menggambarkan garis – garis berbentuk ikan dan tombak
Situs di Tebat Sibentur menggambarkan anggota badan sebatas dada ke bawah.
Kehidupan Religi dan Seni di Situs-Situs Megalitik Pasemah.
Definisi senirupa oleh Dr Soemijati AS dikatakan sebagai upaya penciptaan keindahan yang mampu berkomunikasi dengan peminatnya terutama yang dapat dinikmati melalui mata. Dalam seni rupa tercakup sen lukis, seni patung, seni bangunan dan seni kerajinan ( Soemijati A.S, 1996: 336). Pada masa berkembangnya kehidupan bercocok tanam menetap konsep hidup masyarakat pada waktu itu sangat tergantung pada sumber daya alam. Lingkungan alam mempunyai pengaruh yang kuat dalam kehidupan di masyarakat sehingga memunculkan dinamika sebagi upaya menyiasati kondisi lingkungan baik biotik maupun abiotik dalam rangka memenuhi kebutuhan pokok mereka, sehingga hal ini mendorong timbulnya sepesialisasi keahlian dan organisasi kemasyarakatan demikian pula keberadaan lingkungan alam dengan berbagai jenis fauna dan flora telah mempengaruhi inspirasi dalam karya seni seperti seni patung, seni lukis, seni pahat, dll ( Haris Sukendar,2003: 18 ).
Dalam kehidupan manusia alam sangat mempengaruhi panca indranya sehingga antara keduanya timbul interpretasi timbal balik ( Soemijati 1996: 336). Alam memberikan sumber inspirasi kehidupan, sehingga konsep kepercayaan inilah yang menimbulkan kepercayaan tertentu, yakni;
Adanya anggapan bahwa tanah merupakan unsur penting di dalam kehidupan, hal tersebut merupakan pendorong untuk memanfaatkan lahan pertanian dengan baik.
Sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati merupakan segi yang menonjol dalam masyarakat.. Kepercayaan bahwa roh seseorangtidak lenyap, tetapi hidup terus di alamnya sendiri sangat mempengaruhi kehidupan manusia.
Kematian dianggap tidak membawa perubahan dalam kedudukan ( status sosial ), keadaan dan sifat seseorang ( Diman Suryanto, 1990: 414)
Konsep religi inilah yang mendorong para seniman mengekspresikan karya karyanya dalam bentuk seni lukis, yang merupakan visualisasi lambang-lambang seperti matahari, bulan, pohon, binatang dan benda-benda lain yang diwujudkan / dilukis pada dinding atau batu cadas, bentuk-bentuk yang dilukiskan pada dinding – dinding Goa tersebut beraneka ragam baik yang bersifat naturalistik dengan garis-garis sederhana maupun abstrak. Secara umum dikatakan bahwa permulaan seni manusia prasejarah diperkirakan lahir pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana. Tradisi yang bersifat artistik, goresan, maupun pahatan awal mulanya diterakan pada dinding-dinding goa atau ceruk. ( Kosasih, 1982 ; 67 ). Namun dalam perkembangannya di Indonesia baru ada pada masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, yang ditemukan di Indonesia bagian Timur dengan bentuk-bentuk tampilannya sangat beragam baik secara nyata maupun secara abstrak ( I Dewa Kompiang Gede, 1997; 40 ).
Dalam tradisi megalitik keindahan merupakan sesuatu yang penting dimana keindahan suatu obyek megalitik dipengaruhi oleh maksud dan tujuan pembuatan obyek itu sendiri, Menurut Soemijati A.S. dikatakan karya seni prasejarah ditentukan oleh faktor-faktor yang mendukung penampilannya, faktor-faktor tersebut adalah kepercayaan sehingga karya seni tersebut penggambarannya kurang memperhatikan kekuatan anatomi serta posisinya.
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan di Pasemah, terlihat bahwa cara-cara pemahatan yang halus , rumit dan menarik ( Haris Sukendar, 1985: 15 ). Tampilan seni yang ditampilkan oleh pendukung tradisi megalitik di Pasemah tersebut dapat dijumpai pada pahatan-pahatan arca megalitik, dan dinamika seni pada megalitik Pasemah pun dapat kita perhatikan pada lukisan-lukisan dinding pada kubur-kubur batu di situs Tanjung Aro, situs Tegur wangi, dan situs Kota Raya Lembak. Seni lukis yang ditampilkan berupa lukisan manusia, lukisan fauna, sulur-suluran benda buatan manusia, maupun benda alam. Lukisan yang diterapkan pada dinding kubur batu tersebut memiliki kualitas tinggi dan telah mengenal percampuran warna yaitu; warna hitam dari bahan arang, warna putih , dan warna kuning dari tanah liat dan warna merah dari hematite merah. ( Sukendar, 2003; 121 ). Pemberian warna merupakan simbol kepercayaan akan makna religius seperti warna merah melambangkan keberanian, warna kuning melambangkan keagungan dan warna putih melambangkan kesucian. Selain itu temuan arca-arca batu yang dinyatakan Von Heine Geldern bersifat dinamis menggambarkan bentuk-bentuk binatang seperti gajah, harimau, ular.
Plastisitas seni arca yang menonjol ini menunjukkan tingkat keahlian si pemahat. Seni ataupun estetika yang dimunculkan pada kehidupan manusia prasejarah tidak terlepas dari tujuan dasar pembuatannya yakni untuk memenuhi kebutuhan rohani. Tampilnya pahatan-pahatan arca baik yang bersifat statis maupun dinamis mengacu pada konsepsi kepercayaan yang mendasari pola pikir masyarakat dalam hubungannya dengan pemujaan arwah leluhur sebagai usaha mendekatkan diri kepada yang kuasa ( super natural power ). Pahatan – pahatan arca megalitik Pasemah menurut Haris Sukendar mempunyai fungsi yang sangat berbeda dengan arca menhir yang berkarakteristik statis di daerah gunung Kidul atau di Bondowoso ( Sukendar, 2003; 54 ). Bentuk penghormatan dalam pemujaan divisualisasikan oleh tangan – tangan terampil pada saat itu dengan menghadirkan pahatan-pahatan yang mencerminkan kekuatan dari pemimpin / tokoh seperti yang dapat kita jumpai pada arca megalitik di situs Belumai, situs Tinggi hari, situs Pulau Panggung, situs Tanjung Aro. ( Budi Wiyana, 1996 ; 7 – 8 ). Sedangkan pada arca-arca megalitik yang ditemukan hanya berupa kepala saja dapat dikaitkan dengan pengorbanan untuk memperkuat pendirian bangunan megalitik, hal ini mengingatkan juga dengan adanya aktivitas pemujaan dalam pemberian bekal kubur pada penguburan di situs Padang sepan, kabupaten Bengkulu Utara.
Hadirnya budaya megalitik Pasemah yang menonjolkan seni dalam bentuk keindahan, kemewahan, keagungan dan kegagahan telah dimunculkan dalam bentuk pahatan-pahatan pada arca-arca megalitik selain berfungsi sebagai sosiotehnik juga idiotehnik. Konsep pendirian megalitk tersebut dapat dikelompokan sbb:
Konsepsi sakral berkaitan erat dengan arwah nenek moyang masyarakat yang sangat kental dengan hal pemujaan kepada roh leluhur, dan konsepsi sakral yang berkaitan dengan kekuatan gaib, yang dapat dijumpai dalam bentuk pahatan muka manusia, dan pahatan-pahatan binatang.
Konsepsi semi sakral antara lain terwujud dalam pendirian bangunan-bangunan megalitik seperti yang tercermin pada lambang sifat raja seperti ayam jantan, buaya, kura-kura, bulan, lambang-lambang persatuan seperti: pilar, pola hias lingkaran persatuan, lambang kekuasaan seperti ujung tombak, segitiga, lambing pemimpin/ketua adat seperti arca megalitik .
Konsepsi profan, pendirian bangunan megalitik yang tercermin dari pola hias berbentuk geometris, seperti garis lurus, gelombang, belah ketupat.
PENUTUP
Keberadaan tinggalan megalitik di dataran tinggi Pasemah dengan warna, corak serta keunikan tersendiri telah mengindikasikan perilaku masayarakat yang hidup saat itu telah memiliki kebudayan yang tinggi, dan telah terjalin kerjasama yang sehat yang dituntut atas dasar kepentingan bersama di atas kepentingan individu. Tradisi menghormati orang – orang yang dianggap berperan dalam masyarakat menjelma dalam upacara pemujaan nenek moyang dan pendirian bangunan-bangunan megalitik. Tidak terlepas dari aspek-aspek tersebut di atas tampaknya unsur seni juga menjadi pendorong para seniman untuk mengekspresikan karyanya yang nampak dari goresan-goresan pada dinding batu maupun arca-arca megalitik yang menonjolkan karya seni yang cukup tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Budi Wiyana . 1996. Survei Situs-Situs Megalitik Di Kabupaten Lahat Provinsi Sumatera Selatan. Laporan Penelitian Arkeologi. Balai Arkeologi Palembang. Palembang.
Dawson Christoper . 1948. Religion and Culture, London : Sheed & Ward.
Diman Suryanto, 1990. “Kajian Agrikultur Berdasarkan Data Arkeologi” Analisa Hasil Penelitian Arkeologi. Hal. 414.
I Dewa Kompiang Gede. 1989. Relief Prasejarah di Desa Maniklinju. Balai Arkeologi Denpasar.
Haris Sukendar. 2003. Megalitik Bumi Pasemah. Peranan Serta Fungsinya. Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Deputi Bidang Pelestarian Dan Pengembangan Budaya Pusat Penelitian Arkeologi. Jakarta.
Heine Geldern, R. von dan Loeb E.M, 1945. Prehistoric Research in the Netherlands Indies”, Science and Scientists in the Netherlands Indies. New York. Board for the Netherlands Indies, New York: Board for Netherlands Indies, Suriname and Curacao.
Hoop, A.N.J.Th.a.Th. van der. 1932. Megalithic Remain in South Sumatra. Zutpen Netherland: W.J.Thieme & Cie
Kosasih. 1982/1983: Lukisan Gua di Indonesia Sebagai Sumber data Penelitian Arkeologi. Analisa Kebudayaan. Hal.66-79.
Mundardjito, 1986. “Penalaran Induktif-Deduktif dalam Arkeologi”. PIA IV buku IV: Konsepsi dan Metodologi, Hal. 197-207. Jakarta: Puslit Arkenas.
Rumbi Mulia, 1980. ‘Beberapa Catatan Mengenai Arca-arca yang disebut arca tipe Polinesia”, Pertemuan Ilmiah Arkeologi, Cibulan 21-25 Februari 1977. Jakarta: Puslit Arkenas.
Soejono, R.P, 1977. Jaman Prasejarah di Indonesia, Sejarah Nasional Indonesia I, Jakarta: Balai Pustaka.
Soemijati, A.S. 1986. Pertemuan Ilmiah Arkeologi VII. Cipanas. Hal. 336.
Wallace, Anthony F.C., 1996. Religion: an anthropological View. New York: Random House.
Sumber : http://www.balarpalembang.go.id/Sidda_Tantin_Religi.htm
Legenda Si Pahit Lidah dan Mata Empat
Tersebutlah sebuah danau yang menjadi saksi sejarah dua insan manusia yang bekelahi mengadu kekuatan mereka. Danau ini adalah saksi pertarungan dua pendekar bernama Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat. Danau ini terletak di Sumatera Selatan.
Mata Empat adalah dua jawara gagah berani yang menjadi legenda terkenal bagi masyarakat Banding Agung. Mereka amat disegani lawan-lawannya. Baik si Pahit Lidah maupun si Mata Empat, keduanya merasa paling hebat di antara keduanya.”Ha..ha..ha..sayalah yang paling hebat sejagat raya ini, tak ada yang bisa menandingiku”ucap si mata empat di depan umum ketika mempertunjukkan kehebatannya. ”Hei si Mata Empat..sombong sekali kau, apa belum tahu kehebatanku??” teriak si Pahit Lidah kepada si Mata Empat. Si Mata Empat pun menjadi geram dan rasanya ingin segera menghajar si Pahit Lidah. Namun niatnya tersebut diurungkan karena kalau berkelahi secara langsung tentu dia akan kalah dengan kutukan lidahnya yang pahit itu”Baiklah, sekarang saya beri kelonggaran untukmu yang telah lancang kepadaku Pahit Lidah, saya akan membuktikan seberapa hebat kesaktianmu. lima hari dari sekarang di dekat Danau Ranau setelah matahari terbenam. Bagaimana apakah kau sanggup?” tanya si Mata Empat menantang si Pahit Lidah.”Oke..dengan senang hati saya terima tantanganmu Mata Empat, lagipula aku sudah tak sabar ingin menghajar orang sombong macam kau!!” jawab si Pahit Lidah dengan lantang.Akhirnya, karena ingin membuktikan siapa yang benar-benar lebih hebat di antara mereka berdua, mereka sepakat untuk bertemu dan mengadu kekuatan masing-masing.Maka tibalah pada hari yang sangat menentukan itu. Mata Empat menggunakan permainan licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Caranya, secara bergiliran keduanya harus tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Lalu, bunga aren di atas akan dipotong oleh salah satu di antara mereka. Siapa bisa menghindar dari bunga dan buah aren yang lebat dan berat itu, dialah yang akan disebut jawara sakti. Setiap orang diberi kesempatan memotong tiga kali bila buah yang di jatuhkan belum mengenai musuh. Si Pahit Lidah tidak mengetahui kalau Mata Empat telah berbuat licik terhadapnya. Tapi si Pahit Lidah menerima saja tantangan Mata Empat tersebut.Lalu dengan sistem undian yang telah mereka sepakati si Mata Empat mendapat giliran pertama. Sesuai namanya, si Mata Empat juga memiliki dua mata lain, yakni di belakang kepalanya.Dengan secepat kilat si Pahit Lidah lalu memanjat pohon aren yang ada di tepi danau tersebut.”Hei Mata Empat yang sombong terimalah ini, selamat tinggal untuk selama-lamanya.” ucap Pahit Lidah kepada Mata Empat.Dengan tenangnya si Mata Empat menelungkup di bawah pohon. Cring…byar…buah aren berhasil di potong dan di jatuhkan oleh si Pahit Lidah.Tentu saja si Mata Empat bisa melihat arah jatuhnya buah aren tersebut. mata di kepala mata empat bisa melihat ketika bunga aren jatuh meluncur ke ke arah Mata Empat. Dengan mudahnya si Mata Empat bisa menghindar dari runtuhan buah aren tersebut.”Ha..ha..ha..ha..apakah hanya itu saja kemampuanmu hai pahit lidah” dengan sombong Mata empat mengejek si Pahit Lidah yang ada di atas pohon.”Kurang ajar, ternyata kau belum mati juga” dengan kesal si Pahit Lidah memotong buah aren yang lebih besar. Tapi si Mata Empat dapat menghindar lagi dari jatuhan buah aren tersebut.”Wahai Pahit Lidah saya kasih kesempatan sekali lagi untuk menunjukkan kemampuanmu” ujar Mata Empat dengan sombongnya. Dengan perasaan hampir putus asa, Pahit Lidah memotong buah aren yang lebh besar dari yang kedua. Tapi dengan kemempuan yang dimilikinya, Mata Empat bisa menghindar untuk ketiga kalinya dari jatuhan buah aren tersebut.Dengan perasaan kecewa Pahit Lidah turun dari pohon aren tersebut. Kini giliran si Pahit Lidah untuk manjat pohon aren. Dengan secepat kilat juga si Mata Empat memanjat dan si Pahit Lidah sud ah menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon itu.”Pahit lidah apakah kau sudah siap dengan kematianmu?”tanya Mata Empat kepada Pahit Lidah.”Jangan banyak oceh kau. Cepat potong buahnya!”jawab Pahit Lidah.Mata empat pun dengan alat yang telah di siapkannya memotong buah aren tersebut. Clazzz…gugusan buah are itu meluncur deras ke bawah.Si pahit lidah tak bisa mengetahui hal itu. Badannya tetap berada persis di bawah luncuran itu. Ia tak menghindar.”Akhhhh…” Pahit Lidah berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Buah aren yang besar dan berat tersebut mengenai tubuh si Pahit Lidah. Tubuhnya bersimbah darah dan ia tewas seketika secara mengenaskan.”Ha..ha..ha..ternyata kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesaktianku.” Si Mata Empat senang, dan merasa puas. Ia bisa membuktikan pada semua orang, dirinyalah yang lebih sakti dari si Pahit Lidah.Namun rasa ingiun tahunya muncul, mengapa lawannya itu mendapat julukan si Pahit Lidah? Benarkah lidahnya memang pahit? Lalu karena penasaran, ia cucukkan jarinya ke dalam mulut si pahit lidah yang sudah mati itu. Setelah itu, dicecapnya jarinya sendiri yang sudah terkena liur di Pahit Lidah.”Benar, rasanya pahit sekali. Rasanya lebih pahit dari akar brotoali.”Rupanya itu racun yang mematikan. Si Mata Empat pun mengerang-erang kesakitan memegangi tenggorokannya. Tapi apa mau dikata. Racun tersebut telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seketika itu juga tubuhnya membiru. Maka si Mata Empat pun juga tewas di tempat yang sama. Akibat terlalu sombong dan angkuh. Merasa dirinya paling hebat di dunia ini, padahal masih ada yang lebih hebat sejagat raya ini yaitu Allah SWT. Kedua jawara ini lalu dimakamkan oleh penduduk setempat di tepi Danau Ranau yang menjadi saksi sejarah pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat.
Mata Empat adalah dua jawara gagah berani yang menjadi legenda terkenal bagi masyarakat Banding Agung. Mereka amat disegani lawan-lawannya. Baik si Pahit Lidah maupun si Mata Empat, keduanya merasa paling hebat di antara keduanya.”Ha..ha..ha..sayalah yang paling hebat sejagat raya ini, tak ada yang bisa menandingiku”ucap si mata empat di depan umum ketika mempertunjukkan kehebatannya. ”Hei si Mata Empat..sombong sekali kau, apa belum tahu kehebatanku??” teriak si Pahit Lidah kepada si Mata Empat. Si Mata Empat pun menjadi geram dan rasanya ingin segera menghajar si Pahit Lidah. Namun niatnya tersebut diurungkan karena kalau berkelahi secara langsung tentu dia akan kalah dengan kutukan lidahnya yang pahit itu”Baiklah, sekarang saya beri kelonggaran untukmu yang telah lancang kepadaku Pahit Lidah, saya akan membuktikan seberapa hebat kesaktianmu. lima hari dari sekarang di dekat Danau Ranau setelah matahari terbenam. Bagaimana apakah kau sanggup?” tanya si Mata Empat menantang si Pahit Lidah.”Oke..dengan senang hati saya terima tantanganmu Mata Empat, lagipula aku sudah tak sabar ingin menghajar orang sombong macam kau!!” jawab si Pahit Lidah dengan lantang.Akhirnya, karena ingin membuktikan siapa yang benar-benar lebih hebat di antara mereka berdua, mereka sepakat untuk bertemu dan mengadu kekuatan masing-masing.Maka tibalah pada hari yang sangat menentukan itu. Mata Empat menggunakan permainan licik yang hanya menguntungkan dirinya sendiri. Caranya, secara bergiliran keduanya harus tidur menelungkup di bawah rumpun bunga aren. Lalu, bunga aren di atas akan dipotong oleh salah satu di antara mereka. Siapa bisa menghindar dari bunga dan buah aren yang lebat dan berat itu, dialah yang akan disebut jawara sakti. Setiap orang diberi kesempatan memotong tiga kali bila buah yang di jatuhkan belum mengenai musuh. Si Pahit Lidah tidak mengetahui kalau Mata Empat telah berbuat licik terhadapnya. Tapi si Pahit Lidah menerima saja tantangan Mata Empat tersebut.Lalu dengan sistem undian yang telah mereka sepakati si Mata Empat mendapat giliran pertama. Sesuai namanya, si Mata Empat juga memiliki dua mata lain, yakni di belakang kepalanya.Dengan secepat kilat si Pahit Lidah lalu memanjat pohon aren yang ada di tepi danau tersebut.”Hei Mata Empat yang sombong terimalah ini, selamat tinggal untuk selama-lamanya.” ucap Pahit Lidah kepada Mata Empat.Dengan tenangnya si Mata Empat menelungkup di bawah pohon. Cring…byar…buah aren berhasil di potong dan di jatuhkan oleh si Pahit Lidah.Tentu saja si Mata Empat bisa melihat arah jatuhnya buah aren tersebut. mata di kepala mata empat bisa melihat ketika bunga aren jatuh meluncur ke ke arah Mata Empat. Dengan mudahnya si Mata Empat bisa menghindar dari runtuhan buah aren tersebut.”Ha..ha..ha..ha..apakah hanya itu saja kemampuanmu hai pahit lidah” dengan sombong Mata empat mengejek si Pahit Lidah yang ada di atas pohon.”Kurang ajar, ternyata kau belum mati juga” dengan kesal si Pahit Lidah memotong buah aren yang lebih besar. Tapi si Mata Empat dapat menghindar lagi dari jatuhan buah aren tersebut.”Wahai Pahit Lidah saya kasih kesempatan sekali lagi untuk menunjukkan kemampuanmu” ujar Mata Empat dengan sombongnya. Dengan perasaan hampir putus asa, Pahit Lidah memotong buah aren yang lebh besar dari yang kedua. Tapi dengan kemempuan yang dimilikinya, Mata Empat bisa menghindar untuk ketiga kalinya dari jatuhan buah aren tersebut.Dengan perasaan kecewa Pahit Lidah turun dari pohon aren tersebut. Kini giliran si Pahit Lidah untuk manjat pohon aren. Dengan secepat kilat juga si Mata Empat memanjat dan si Pahit Lidah sud ah menelungkupkan badannya di bawah rumpun pohon itu.”Pahit lidah apakah kau sudah siap dengan kematianmu?”tanya Mata Empat kepada Pahit Lidah.”Jangan banyak oceh kau. Cepat potong buahnya!”jawab Pahit Lidah.Mata empat pun dengan alat yang telah di siapkannya memotong buah aren tersebut. Clazzz…gugusan buah are itu meluncur deras ke bawah.Si pahit lidah tak bisa mengetahui hal itu. Badannya tetap berada persis di bawah luncuran itu. Ia tak menghindar.”Akhhhh…” Pahit Lidah berteriak kesakitan sejadi-jadinya. Buah aren yang besar dan berat tersebut mengenai tubuh si Pahit Lidah. Tubuhnya bersimbah darah dan ia tewas seketika secara mengenaskan.”Ha..ha..ha..ternyata kamu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesaktianku.” Si Mata Empat senang, dan merasa puas. Ia bisa membuktikan pada semua orang, dirinyalah yang lebih sakti dari si Pahit Lidah.Namun rasa ingiun tahunya muncul, mengapa lawannya itu mendapat julukan si Pahit Lidah? Benarkah lidahnya memang pahit? Lalu karena penasaran, ia cucukkan jarinya ke dalam mulut si pahit lidah yang sudah mati itu. Setelah itu, dicecapnya jarinya sendiri yang sudah terkena liur di Pahit Lidah.”Benar, rasanya pahit sekali. Rasanya lebih pahit dari akar brotoali.”Rupanya itu racun yang mematikan. Si Mata Empat pun mengerang-erang kesakitan memegangi tenggorokannya. Tapi apa mau dikata. Racun tersebut telah menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan seketika itu juga tubuhnya membiru. Maka si Mata Empat pun juga tewas di tempat yang sama. Akibat terlalu sombong dan angkuh. Merasa dirinya paling hebat di dunia ini, padahal masih ada yang lebih hebat sejagat raya ini yaitu Allah SWT. Kedua jawara ini lalu dimakamkan oleh penduduk setempat di tepi Danau Ranau yang menjadi saksi sejarah pertarungan antara si Pahit Lidah dan si Mata Empat.
Langganan:
Postingan (Atom)

